Oleh: Rudi Salam

Pedagang Mainan, Tamrin, di Pasar/Pajak Harian Desa Pasar, Rabu (28/1/2026)
BERITAKITAACEHSINGKIL.COM | Singkil – Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat masyarakat di Kecamatan Singkil semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Warga kini memilih berbelanja seperlunya, menyesuaikan kebutuhan dengan kemampuan finansial keluarga.
Pantauan di Pasar Harian Desa Pasar, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, Rabu (28/1/2026), menunjukkan aktivitas jual beli tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Lapak pedagang masih berjajar, namun jumlah pembeli yang datang tampak berkurang. Banyak warga lebih fokus membeli kebutuhan pokok seperti beras, sayur, dan lauk sederhana, sementara kebutuhan lain mulai dikurangi.
Salah seorang warga, Siti (42), mengaku kini harus lebih selektif saat berbelanja. Jika sebelumnya bisa membeli berbagai keperluan sekaligus, sekarang ia lebih memprioritaskan kebutuhan utama.
“Sekarang belanja harus benar-benar dihitung. Yang penting cukup untuk makan sehari-hari, yang lain ditunda dulu,” ujarnya.
Selain faktor ekonomi, maraknya aktivitas belanja online juga turut memengaruhi kondisi pasar tradisional. Sebagian masyarakat kini lebih memilih berbelanja melalui platform digital karena dinilai lebih praktis dan mudah diakses.
Namun, banyak pedagang pasar mengaku belum mampu mengikuti perkembangan tersebut. Sebagian besar masih belum terbiasa menggunakan media sosial maupun aplikasi jual beli online untuk mempromosikan dagangannya karena keterbatasan pengetahuan teknologi.
“Kalau jualan lewat HP kami belum paham. Pakai WhatsApp saja kadang masih bingung,” ujar salah seorang pedagang.
Salah satu pedagang mainan, Tamrin, mengaku telah berjualan selama lebih dari 10 tahun di sejumlah pasar di Aceh Singkil. Menurutnya, kondisi jualan saat ini sangat berbeda dibandingkan masa awal ia memulai usaha.
“Dulu alhamdulillah omset saya bagus, jualan di pasar mingguan, Onan Senin, Onan Kamis, dan Onan Selasa di Gosong. Sekarang sudah jauh berbeda, pembeli berkurang dan omset turun jauh,” ungkapnya.
Tamrin menyebutkan, saat ini pendapatan dari pasar mingguan hanya berkisar antara Rp200.000 hingga Rp300.000 per hari, sementara di pasar harian sekitar Rp100.000.
“Dengan hasil segitu, jujur tidak cukup untuk kebutuhan. Banyak pengeluaran, mulai dari minyak kendaraan, bayar lapak, makan minum saat jualan, sampai kebutuhan di rumah. Ini satu-satunya usaha saya,” katanya.
Ia juga menilai penurunan pembeli semakin terasa dalam dua tahun terakhir, terutama pasca banjir besar yang sempat melanda wilayah tersebut. Saat itu, ia mengaku tidak dapat berjualan selama sekitar dua bulan.
“Setelah banjir kemarin, makin sepi. Sudah dua tahun belakangan ini paling terasa turunnya,” tambahnya.
Tamrin berharap pemerintah dan dinas terkait dapat memberikan perhatian lebih kepada pedagang kecil, khususnya melalui pendampingan dan edukasi penjualan online agar jangkauan pasar mereka semakin luas.
“Kami berharap ada pendampingan, kalau bisa diajari jualan online supaya dagangan kami bisa dikenal lebih luas,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh salah satu pelaku usaha ikan lele asap di pasar tersebut. Ia mengenang masa pendampingan usaha yang pernah diterima pada awal 2018 hingga akhir 2019 dari Kementerian Perindustrian melalui tenaga penyuluh lapangan industri kecil dan menengah (TPL-IKM).
“Dulu kami pernah didampingi langsung. Pendampingnya berkantor di Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Aceh Singkil. Namanya biasa kami panggil Mahdi,” kenangnya.
Menurutnya, pendampingan tersebut sangat membantu perkembangan usaha. Mulai dari pengelolaan keuangan, peningkatan produksi, hingga pengurusan izin usaha.
“Waktu itu usaha kami maju, pasar semakin luas, keuangan juga tertata. Uang usaha dan uang pribadi terpisah. Produksi meningkat, izin usaha juga diurus,” jelasnya.
Namun, sejak pendampingan tersebut berakhir, perkembangan usaha kembali melambat. Ia berharap program serupa dapat dihidupkan kembali.
“Kami ingin ada lagi pendamping seperti dulu. Supaya usaha kami membaik dan pasar semakin luas,” harapnya.
Menurunnya daya beli masyarakat, perubahan pola belanja, serta minimnya pendampingan usaha menjadi tantangan utama bagi pedagang pasar tradisional di Aceh Singkil saat ini. Meski demikian, para pedagang tetap berupaya bertahan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Pasar Harian Singkil sebagai pusat ekonomi rakyat diharapkan kembali bergairah melalui sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, sehingga roda perekonomian lokal dapat kembali bergerak secara berkelanjutan.
